ABOUT THIS BLOG

Ini Blog ga penting, tentang catatan Rma, Seorang guru Matematika. (Ups guru Matematika? kok ga meyakinkan sama sekali yak?). ya Begitulah, ato lebih kerennya ini adalah CATATAN GA PENTING SEORANG GURU YANG TAK BIASA . Ambigu yak, yang tak Biasa apanya? Catatan ato orangnya? kayaknya dua-duanya deh.
Sekalian, Saya promosiin Blog saya yang laen dah. Selain di sini, Saya juga nulis cerpen di kumpulan kisah.
Silahkan dikunjungi semua kalo sempat, n kasih jejak ato oleh-oleh yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Makasih...

Belajar Dari Kerasnya Hidup

Sabtu, 14 Maret 2009

Beberapa hari ini ada seorang sahabat yang sering mengeluh kepada saya, katanya ia sudah tidak semangat lagi untuk berkarya lagi. Ia merasa ini lah puncak penderitaannya selama ini setelah ia tidak direstui orang tuanya untuk bersanding dengan kekasih ehem...kekasih hatinya. Dia bilang dari kecil ia hidup di bawah kungkungan orang tuanya, selalu menuruti kemauan orang tua. Sayangnya dia tidak menceritakan secara detail seperti apa misalnya. Aku malah mendengar tentang masalah dirinya dari seseorang yang astaghfirullah seharusnya kurang pantas tau masalahnya. Kenapa aku bilang bahwa orang itu kurang pantas? Karena sahabat saya adalah seorang akhwat yang taat dan 'seseorang' itu adalah seorang ikhwan bukan mahramnya yang aku tau sangat mengenal Islam. Dan aku rasa kurang bijaksana kalo mereka berhubungan sedekat ini tanpa suatu ikatan suci yang diridlai Allah, walo hubungan yang terjadi bukan secara fisik..

Seorang sahabat yang dulu sempat aku jadikan anutan, yang telah aku jadikan teladan dalam mengenal Islam. Dan kini dia merasa dirinya sudah redup, tidak bisa bersinar lagi??? Afwan pren, aku ga bermaksud menyebarkan ceritamu di umum, aku ga akan menunjukkan identitasmu kok..

Ketika aku mendengar ceritanya, aku gak tau musti bilang apa... Sebenarnya aku pengin banget ngingetin dia bahwa ia masih beruntung, masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung darinya. Bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita tidak sepantasnya menyalahkan orang lain bahkan orang tua kita. Aku yakin, gak ada ortu yang mau menghancurkan anaknya, setiap ortu mesti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Tapi ketika melihatnya sedih, aku jadi gak tega... Aku biarkan dia terus menceritakan hatinya yang sedang galau... aku hanya ikut nangis (lho???? Ga segitu kalee....)

Aku jadi teringat kehidupanku, kehidupanku yang tak lepas dari campur tangan kedua orang tua dan (alhamdulillah) aku tidak pernah menyalahkan mereka. Aku terbiasa dengan keadaan bahwa semua keinginan dalam hidupku tidak selalu terpenuhi. Bahkan ketika aku memilih pendidikan yang aku jalani, hah.... terlalu banyak kalo diceritakan. (wah...nanti kalo aku ceritakan mata kalian berkunang-kunang bacanya ato jangan-jangan ketiduran lagi...)

Aku pikir, kalo ortuku mengabulkan setiap permintaanku mungkin aku dengan senang hati menuruti permintaan mereka (hehehe keliatan ya kalo onyel mau enaknya saja...???). Yang ada justru begitu aku menuruti keinginan mereka, mereka seakan lepas, membiarkan aku menyelesaikan semua masalah sendiri, menjalani kerasnya hidup sendiri. Misalnya saja Ketika kuliah, Aku harus kerja sampingan demi memenuhi segala kebutuhanku yang lain, orang tuaku hanya menjamin untuk sekedar hidup dan biaya kuliah.
Mereka seolah sengaja mengajarkan kerasnya kehidupan kepadaku, bahwa kehidupan nyata tidak semudah yang aku pikirkan, biar aku siap untuk menghadapi hidup ini.

Coba fikirkan dan renungkan hal-hal yang aku kemukakan ini:
  • Kalo kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, mungkin gak ada tantangan yang berarti, karena kita akan lebih siap menjalaninya. Tapi kalo kita menjalani sesuatu yang belom pernah terfikir dalam benak kita, maka kita akan penuh tantangan dalam menjalaninya. Betul tak???? Di sinilah kita benar-benar menjalani kerasnya kehidupan yang akan mendewasakan kita.
  • Soal keinginan orang tua, hei jangan bilang kalo keinginan orang tua bertentangan dengan keinginan kita, ato bertentangan dengan hati kita. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya, dan kita sendiri juga menginginkan yang terbaik untuk kita sendiri kan? Jadi gak bertentangan HANYA SAJA mungkin cara yang mereka inginkan tidak sejalan dengan hati kita bukannya bertentangan. Gak ada salahnya menuruti keinginan orang tua selama keinginan orang tua tidak melenceng dari syariat-syariat Islam yang menjadi tuntunan hidup kita. Ridlallahi fi ridlo wallidaini...
  • Masih menyangkut keinginan orang tua, coba kita pikirkan lagi. Apakah orang tua kita begitu mengatur setiap detil kehidupan kita? Gak kan? Kita masih punya celah untuk melakukan sesuatu yang menjadi keinginan kita. Kreatif-kreatifnya kitalah dalam memanfaatkan celah itu. Eits hati-hati, sekreatif-kreatifnya kita jangan sampai kita berbuat sesuatu yang mengecewakan ortu kita atau menyakiti hati mereka.
  • Ambil hikmah dibalik semua kejadian. Seperti misalnya ketika beberapa sahabat aku bercerita bahwa mereka pengin menuntut ilmu di pesantren untuk mendalami Islam (termasuk aku, hehe), tapi ortu malah memasukkan ke sekolah umum. Pikirkan, Justru dengan menuntut ilmu di sekolah umum dan ternyata kita mampu bertahan dan tidak terpengaruh oleh bad efect nya pergaulan atau budaya, hal itu menunjukkan bahwa kita mempunyai mental dan keimanan yang gak kalah ma santri-santri pesantren. Bener ga??? Peace San eh maksudnya santri-santri dari pesantren...
Oh ya, satu pelajaran lagi bisa aku petik dari pengalaman sahabatku itu, aku semakin tau dan mengerti mengapa Islam begitu mewanti-wanti (warning) umatnya dalam 'berhubungan' dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Syukron pren, pengalamanmu adalah pelajaran bagiku untuk melangkah menjalani hidup.

Ehem....It's just my opinion. Be a Proaktif person and always positive thinking...
Ok ???

1 komentar

 

onyel's Pesbuk

Yahoo Messenger

.

Blogger templates

Blog Archive

TEMAN-TEMAN

Blogroll

Photobucket

Ads 200x200